Indonesia–Mesir: Dari Persahabatan Historis Menuju Kekuatan Global South

by -39 Views

Oleh Teguh Anantawikrama
Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Bidang Teknologi dan Transformasi Digital

Saya melihat Indonesia dan Mesir memiliki lebih banyak kesamaan daripada yang selama ini tercermin dalam hubungan ekonomi keduanya. Kita memiliki pengalaman perjuangan melawan kolonialisme, masyarakat yang kuat berakar pada agama dan kebudayaan, serta aspirasi untuk membangun kemajuan dengan tetap menjaga kedaulatan. Kedua bangsa juga menghadapi pertanyaan yang sama: bagaimana mengubah posisi strategis dan besarnya potensi nasional menjadi kesejahteraan yang dirasakan rakyat?

Karena itu, kunjungan Presiden Abdel Fattah El-Sisi dan pertemuannya dengan Presiden Prabowo Subianto di Jakarta pada 11 Oktober 2026 saya pandang sebagai kesempatan untuk memberi isi baru pada persahabatan lama. Pertemuan ini membuka ruang bagi Indonesia dan Mesir untuk membangun kemitraan yang lebih berpengaruh dalam ekonomi dan diplomasi Global South.

Bagi saya, kekuatan Global South bertumpu pada kemampuan negara-negara berkembang memperluas pilihan, meningkatkan kapasitas produksi, dan ikut menentukan aturan yang memengaruhi masa depan mereka. Indonesia dan Mesir memiliki modal untuk menjalankan peran tersebut bersama.

Hubungan ini mempunyai kedalaman sejarah. Dukungan Mesir terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia menjadi fondasi kepercayaan yang terus dikenang hingga hari ini. Presiden Prabowo kembali menegaskan arti dukungan tersebut dalam pertemuan kedua pemimpin. Kepercayaan historis seperti ini merupakan modal diplomasi yang berharga, terutama ketika hubungan antarnegara semakin sering ditentukan oleh kepentingan jangka pendek.

Namun, generasi kita mempunyai tanggung jawab untuk menerjemahkan warisan persahabatan itu menjadi manfaat ekonomi dan pengaruh internasional yang nyata.

Peningkatan hubungan menjadi kemitraan strategis pada April 2025 telah menyediakan kerangkanya. Cakupannya meliputi politik, ekonomi, keamanan, pertahanan, pendidikan, kebudayaan, dan hubungan antarmasyarakat. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa keluasan agenda tersebut diikuti prioritas, pelaksana, dan hasil yang terukur.

Indonesia dan Mesir juga memiliki kesamaan dalam arti geografis yang penting. Keduanya berada di persimpangan kawasan dan jalur perdagangan dunia. Mesir memiliki Terusan Suez yang menghubungkan Laut Merah dan Mediterania, sementara Indonesia berada di antara Samudra Hindia dan Pasifik. Posisi ini memberi keduanya kepentingan besar terhadap keamanan pelayaran, kelancaran perdagangan, dan stabilitas internasional.

Dalam perspektif saya, negara yang berada di persimpangan dunia mempunyai tanggung jawab untuk menjaga keterhubungan. Ketika konflik mengganggu perdagangan, dampaknya segera menjalar kepada biaya logistik, harga pangan, kebutuhan energi, dan daya beli masyarakat. Diplomasi perdamaian dengan demikian mempunyai makna ekonomi yang sangat konkret.

Kesamaan lainnya terletak pada kebutuhan pembangunan. Indonesia dan Mesir sama-sama perlu menciptakan pekerjaan produktif, memperkuat industri, meningkatkan keterampilan, dan memastikan pertumbuhan menjangkau masyarakat luas. Di sinilah kerja sama Selatan–Selatan dapat memperoleh bentuk yang lebih substantif: saling membantu membangun kemampuan yang dibutuhkan untuk naik kelas.

Target perdagangan bilateral sebesar US$5 miliar pada 2030, sebagaimana disampaikan Presiden El-Sisi, patut menjadi dorongan bersama. Saya ingin melihat target tersebut menghasilkan hubungan produksi dan investasi yang lebih dalam. Perdagangan akan lebih tangguh apabila ditopang perusahaan yang berinvestasi, mengembangkan teknologi, dan menciptakan nilai tambah di kedua negara.

Pernyataan bahwa Mesir dapat menjadi pintu menuju pasar Arab, Afrika, dan Eropa juga perlu diterjemahkan menjadi strategi usaha yang rinci. Peluangnya harus diuji berdasarkan produk, aturan asal barang, standar teknis, biaya logistik, serta jaringan distribusi. Demikian pula, Indonesia dapat menjadi mitra bagi perusahaan Mesir yang ingin mengembangkan kehadiran di Asia Tenggara.

Saya melihat beberapa agenda yang layak diprioritaskan.

Pertama, membangun kemitraan industri yang menghubungkan hilirisasi dengan pasar. Proyek bersama perlu dimulai dari kebutuhan pembeli, kelayakan usaha, dan pembagian kemampuan antarmitra. Pengolahan pangan, pupuk, farmasi, serta manufaktur dapat dijajaki melalui kajian yang disiplin. Keberhasilan sebaiknya diukur dari investasi yang terealisasi, pekerjaan yang tercipta, dan kemampuan teknologi yang meningkat.

Kedua, mengembangkan kerja sama digital sebagai sarana memperluas partisipasi ekonomi. Penyederhanaan dokumen perdagangan, penguatan layanan kepabeanan, dan pertukaran pengalaman dalam pelayanan publik digital dapat mengurangi biaya berusaha. Bagi UMKM, proses yang lebih mudah dan transparan sering kali sama pentingnya dengan terbukanya pasar baru.

Ketiga, memperkuat hubungan pendidikan, keterampilan, dan pariwisata. Kedekatan budaya serta hubungan keilmuan yang telah lama terjalin memberi dasar untuk memperluas kerja sama universitas, pendidikan vokasi, riset terapan, dan kewirausahaan. Kedua negara juga memiliki kekayaan warisan peradaban yang dapat dikembangkan melalui promosi bersama dan peningkatan kualitas layanan wisata.

Sebagai bagian dari dunia usaha, saya memandang KADIN dapat berkontribusi dengan mempertemukan perusahaan yang memiliki kebutuhan dan kemampuan saling melengkapi. Forum bisnis perlu menghasilkan daftar proyek yang siap dikaji, mitra yang jelas, serta tindak lanjut atas hambatan pembiayaan dan regulasi. Diplomasi ekonomi menjadi bermakna ketika pengusaha dapat mengubah peluang menjadi kegiatan usaha.

Pada saat yang sama, kemitraan ini harus menjaga keluasan orientasi politik luar negeri kedua negara. Global South terdiri atas negara-negara dengan kepentingan yang beragam. Kerja sama yang kuat perlu menghormati perbedaan tersebut sekaligus membangun titik temu: kedaulatan, pembangunan, penyelesaian konflik melalui diplomasi, dan tatanan internasional yang lebih adil.

Bagi Indonesia, prinsip bebas aktif menyediakan landasan untuk berteman luas sambil mempertahankan kebebasan mengambil keputusan. Kedekatan dengan Mesir dapat memperkuat kemampuan kita membangun dialog lintas kawasan dan menghubungkan kepentingan Asia dengan Afrika serta dunia Arab.

Saya percaya Indonesia dan Mesir dapat menjadi dua penggerak penting bagi Global South yang lebih percaya diri dan produktif. Ukuran kepemimpinannya adalah kemampuan menghadirkan solusi: memperluas perdagangan, membangun industri, meningkatkan keterampilan, dan menjaga ruang bagi perdamaian.

Sejarah telah memberikan dasar kepercayaan. Tugas kita sekarang adalah membangun di atasnya—agar persahabatan Indonesia dan Mesir menghasilkan kemakmuran bagi kedua bangsa sekaligus memperbesar kontribusi mereka bagi dunia.

No More Posts Available.

No more pages to load.