Butuh Lebih dari Sekadar Pemimpin Baru, WHO Membutuhkan Reset Global South

by -11 Views

Pemilihan Direktur Jenderal WHO berikutnya bukan sekadar tentang memilih seorang pemimpin baru. Ini adalah kesempatan untuk membangun tata kelola global yang lebih representatif bagi dunia yang semakin multipolar.

Oleh Teguh Anantawikrama

Pemilihan Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berikutnya oleh banyak pihak dipandang sebagai persaingan antarindividu. Padahal, sesungguhnya ini adalah ujian yang jauh lebih besar: apakah institusi global mampu beradaptasi dengan dunia yang telah berubah secara fundamental.

Selama puluhan tahun, arsitektur tata kelola global dibentuk oleh sekelompok kecil negara yang memiliki sumber daya finansial, pengaruh kelembagaan, dan kekuatan geopolitik untuk menentukan arah kebijakan internasional. Namun model tersebut kini menghadapi tekanan yang semakin besar. Pusat gravitasi ekonomi dunia bergeser, pertumbuhan populasi terkonsentrasi di negara-negara berkembang, sementara dampak perubahan iklim, ancaman pandemi, dan tantangan pembangunan justru paling banyak dirasakan oleh negara-negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Sayangnya, representasi dalam berbagai institusi internasional belum berkembang secepat perubahan realitas global tersebut.

WHO berada tepat di tengah pusaran perubahan itu.

Organisasi ini sedang menghadapi salah satu periode paling menantang dalam sejarahnya. Krisis pendanaan bernilai miliaran dolar, menurunnya bantuan pembangunan internasional, meningkatnya fragmentasi geopolitik, ancaman pandemi yang terus bermunculan, hingga disrupsi kecerdasan buatan memaksa WHO untuk memikirkan ulang bukan hanya bagaimana organisasi ini bekerja, tetapi juga bagaimana tetap relevan di dunia yang semakin multipolar.

Karena itu, pemilihan Direktur Jenderal WHO berikutnya memiliki makna yang jauh melampaui sektor kesehatan.

Pertanyaan yang harus dijawab negara-negara anggota bukan sekadar siapa yang memiliki kredensial medis terbaik atau pemahaman paling mendalam tentang birokrasi internal WHO. Pertanyaan yang lebih penting adalah tipe kepemimpinan seperti apa yang dibutuhkan untuk mengembalikan kepercayaan terhadap multilateralisme itu sendiri. Pemimpin WHO berikutnya harus mampu menjembatani perbedaan geopolitik, membangun koalisi baru, menggalang sumber pendanaan yang berkelanjutan, dan memastikan suara negara-negara berkembang memperoleh tempat yang lebih proporsional dalam pengambilan keputusan global.

Dalam konteks inilah pemilihan WHO menjadi momentum penting bagi Global South.

Global South saat ini tidak lagi hanya menjadi penerima program pembangunan internasional. Kawasan ini telah berkembang menjadi sumber pertumbuhan ekonomi, inovasi, investasi, dan solusi kebijakan yang semakin penting bagi dunia. Negara-negara Global South menyumbang sebagian besar pertumbuhan ekonomi global, menampung mayoritas populasi dunia, serta menghadapi secara langsung berbagai tantangan yang akan menentukan masa depan abad ke-21. Oleh karena itu, sudah sewajarnya perspektif mereka memperoleh ruang yang lebih besar dalam membentuk arah institusi global.

Indonesia adalah salah satu representasi paling nyata dari perubahan tersebut.

Sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, anggota G20 dan BRICS, serta salah satu demokrasi terbesar di dunia, Indonesia memiliki posisi strategis yang unik. Indonesia mampu membangun hubungan konstruktif dengan berbagai kekuatan dunia dan secara konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif yang mengedepankan dialog dibandingkan konfrontasi. Kemampuan untuk berbicara dengan semua pihak inilah yang semakin dibutuhkan dalam dunia yang terfragmentasi.

Bagi Indonesia, pemilihan Direktur Jenderal WHO bukan semata-mata persoalan prestise nasional. Lebih dari itu, ini merupakan kesempatan untuk menunjukkan bagaimana negara berkembang dapat berkontribusi memperkuat institusi global yang saat ini menghadapi tantangan kepercayaan dan relevansi.

Diskursus mengenai pencalonan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menggambarkan perubahan tersebut. Banyak pihak memperdebatkan apakah WHO sebaiknya dipimpin oleh seorang dokter, ahli kesehatan masyarakat, atau seorang eksekutif dengan pengalaman manajerial yang luas. Perdebatan itu tentu penting. Namun, fokus yang terlalu sempit pada latar belakang profesi berisiko mengabaikan tantangan yang sesungguhnya sedang dihadapi WHO.

Persoalan WHO saat ini tidak lagi semata-mata bersifat teknis atau biomedis. Tantangan yang dihadapi semakin bersifat kelembagaan, finansial, dan geopolitik. Mengelola kompleksitas tersebut membutuhkan kemampuan untuk menavigasi kepentingan pemerintah, organisasi internasional, sektor swasta, lembaga filantropi, komunitas ilmiah, dan teknologi baru secara bersamaan. Masa depan tata kelola kesehatan global mungkin akan lebih ditentukan oleh kemampuan membangun kolaborasi dan mentransformasi institusi daripada sekadar keahlian teknis semata.

Inilah alasan mengapa representasi menjadi sangat penting.

Dunia tidak membutuhkan WHO yang merefleksikan realitas abad ke-20. Dunia membutuhkan WHO yang mampu menjawab realitas abad ke-21. Institusi yang lebih representatif bukan hanya soal keadilan, melainkan juga efektivitas. Solusi yang dirancang tanpa keterlibatan memadai dari wilayah-wilayah yang paling terdampak oleh tantangan kesehatan global sulit menghasilkan hasil yang berkelanjutan.

Selama puluhan tahun, Indonesia telah memposisikan diri sebagai pembangun jembatan. Mulai dari Konferensi Asia Afrika di Bandung, kepemimpinan di ASEAN, hingga peran aktif di G20 dan BRICS, Indonesia secara konsisten berupaya mengurangi polarisasi dan memperluas ruang kerja sama. Tradisi diplomasi inilah yang relevan bagi dunia saat ini.

Masa depan multilateralisme tidak akan ditentukan oleh perpindahan dominasi dari satu blok ke blok lainnya. Masa depan multilateralisme akan ditentukan oleh kemampuan institusi global untuk menjadi lebih inklusif, lebih representatif, dan lebih mampu menjawab tantangan bersama umat manusia.

Pemilihan WHO memberikan kesempatan untuk mewujudkan tujuan tersebut.

Pada akhirnya, dunia tidak hanya membutuhkan seorang pemimpin baru bagi WHO.

Dunia membutuhkan sebuah Global South Reset.

Bukan untuk menggantikan satu dominasi dengan dominasi yang lain, melainkan untuk menciptakan keseimbangan baru yang lebih sehat antara perspektif, tanggung jawab, dan kepemimpinan dalam institusi yang mengatur masa depan bersama kita. Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, itulah resep yang paling dibutuhkan saat ini.

No More Posts Available.

No more pages to load.