– Memahami serta mengendalikan perasaan kita merupakan aspek penting dalam perkembangan diri. Namun, bagaimana jika kita belum sepenuhnya sampai pada tahap tersebut?
Saat perempuan belum sepenuhnya membangun kesadaran emosional, hal ini bisa mengakibatkan sejumlah perilaku yang bisa dikenali. Kebiasaan-kebiasaan ini merupakan petunjuk halus bahwa masih ada pekerjaan yang harus dilakukan dalam memahami dan mengendalikan respons emosional kita.
Di dalam artikel ini, saya akan membahas 3 kebiasaan yang sering ditunjukkan oleh perempuan ketika mereka belum mencapai tingkat kesadaran emosional tertentu. Mengenali kebiasaan-kebiasaan tersebut dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan kecerdasan emosional dan membangun kehidupan yang lebih seimbang.
Tolong support kita ya,
Cukup klik ini aja: https://indonesiacrowd.com/support-bonus/
Ingat, hal ini bukan tentang menyalahkan atau menghakimi. Ini berkaitan dengan mengakui pola-pola tersebut dan belajar cara yang lebih baik untuk menghadapi dunia emosional kita. Dilansir dari geediting pada Sabtu (9/9), bersiaplah, saatnya tiba untuk melakukan refleksi diri!
1) Bereaksi daripada merespons
Kebiasaan yang sering dilakukan oleh perempuan yang belum memperoleh kesadaran emosional adalah merespons secara spontan terhadap situasi, bukan mengambil waktu untuk merespons dengan lebih bijaksana.
Saat menghadapi situasi yang penuh perasaan, wajar jika kita langsung merespons secara emosional. Namun, bertindak secara impulsif sering kali menyebabkan tindakan atau ucapan yang menimbulkan penyesalan.
Di sisi lain, merespons melibatkan pengakuan terhadap perasaan, menganalisisnya, dan selanjutnya memilih tindakan yang paling tepat. Hal ini memerlukan tingkat kesadaran emosional tertentu.
Mengenali pola ini merupakan langkah awal untuk mengatasi respons otomatis dan membangun pendekatan yang lebih terarah dalam mengelola perasaan. Ini berarti berhenti sejenak, menghirup napas dalam-dalam, serta memberi diri sendiri ruang untuk memutuskan tindakan berikutnya dengan sadar.
2) Menganggap sesuatu secara personal
Kebiasaan lain yang sering saya perhatikan pada wanita yang belum sepenuhnya mengembangkan kesadaran emosional adalah kecenderungan untuk merasa terluka secara pribadi. Saya tahu hal ini karena saya sendiri pernah mengalaminya.
Saya teringat suatu waktu ketika seorang rekan kerja memberikan umpan balik mengenai sebuah proyek. Umpan balik tersebut bersifat konstruktif, namun alih-alih melihatnya sebagai kesempatan untuk berkembang, saya merasa dihakimi secara pribadi. Pikiran saya mulai melayang dengan pemikiran seperti, “Ia menganggap saya tidak mampu” atau “Ia tidak menghargai pekerjaan saya”.
Namun, seiring berjalannya waktu, melalui refleksi diri dan usaha untuk meningkatkan kesadaran emosional, saya mulai menyadari bahwa tidak semua hal yang terkait dengan saya. Umpan balik sering kali berkaitan dengan pekerjaan, bukan dengan diri seseorang.
Belajar untuk tidak mempermasalahkan segala sesuatu dan menyadari bahwa tindakan atau ucapan orang lain sering kali berkaitan dengan mereka sendiri, bukan Anda, bisa memberikan perbedaan yang besar. Ini adalah proses pencarian diri yang dimulai dengan
Mempelajari cara tidak mengambil segala sesuatu secara pribadi dan menyadari bahwa tindakan atau ucapan orang lain sering kali berkaitan dengan diri mereka sendiri, bukan Anda, bisa sangat berdampak. Ini merupakan proses penemuan diri yang dimulai dengan kesadaran akan kebiasaan ini dan upaya sadar untuk mengubahnya.
3) Kesusahan dalam mengenali dan memberi nama pada perasaan
Di bidang kesadaran emosional diri, kemampuan untuk mengenali dan menyebutkan perasaan yang kita alami merupakan langkah yang sangat penting. Namun, banyak perempuan yang belum mengembangkan kesadaran ini seringkali mengalami kesulitan dalam hal tersebut.
Bukan hanya sekadar pendapat sembarangan, melainkan didasarkan pada penelitian psikologis. Dalam sebuah penelitian, peserta yang mengalami kesulitan mengenali dan menggambarkan perasaan mereka cenderung memiliki tingkat kesadaran emosional yang lebih rendah.
Ketika kita tidak mampu mengenali perasaan kita, semakin sulit untuk mengendalikannya atau menyampaikannya secara efektif. Hal ini mirip dengan mencoba berjalan melalui kabut tebal tanpa menggunakan kompas.
Tetapi jangan khawatir! Hal ini bisa ditingkatkan melalui latihan kesadaran diri dan pengembangan literasi emosional. Langkah pertama adalah menyadari kebiasaan tersebut, lalu mengambil tindakan nyata untuk perbaikan.