JAKARTA KOTA– Perusahaan logistik nasional JNE dilaporkan mengalami kebocoran data yang mengungkap lebih dari 81 juta data pelanggan.
Selain kebocoran data pribadi, peristiwa tersebut juga mengungkapkan informasi penting mengenai lokasi rumah, foto pengiriman, identitas kurir, detail pengiriman, serta data lainnya.
Data tersebut dijual di Dark Forums, di mana pelaku menyatakan telah mencuri 81,47 juta catatan pelanggan – total 245GB data mentah – dengan harga $2.000 atau sekitar Rp31 juta.
Tolong support kita ya,
Cukup klik ini aja: https://indonesiacrowd.com/support-bonus/
Akun Instagram @merdekasiber mengatakan kebocoran kali ini adalah bagian dari gelombang besar kebocoran data yang kembali menimpa Indonesia.
Akun tersebut juga menerima informasi bahwa pelaku mengakui telah beberapa kali berusaha menghubungi pihak JNE.
Sayangnya, tidak ada respons yang diterima sehingga data mengenai kelemahan ini tidak sampai kepada perusahaan.
“Pelaku mengakui telah berusaha menghubungi pihak JNE terkait masalah ini, tetapi tidak mendapatkan tanggapan,” tulis akun @merdekasiber.
Data yang disebut telah diekstraksi pada 10 Agustus 2025 mencakup masa dari Mei hingga 8 Agustus 2025, termasuk data pribadi pelanggan, informasi pengiriman, lokasi geografis akurat, serta dokumen operasional perusahaan.
Temuan dari Sampel Data
Pengamatan awal terhadap sampel 100.000 catatan yang diberikan oleh pelaku menunjukkan adanya kolom data yang meliputi:
• Data penerima: nama, alamat lengkap, nomor telepon seluler
• Informasi pengiriman: nomor resi, status, jenis layanan, keterangan barang
• Data pembayaran: besaran transaksi, cara pembayaran, kode asuransi
• Data pengemudi: nama, nomor identitas kependudukan (NIK), kode cabang
• Informasi lokasi: koordinat akurat, area, zona
• Bukti pengiriman: tautan foto bukti penerimaan (ePOD) yang masih berlaku
• Catatan proses internal: dokumen manifest, lembar jalan pengiriman, serta kode internal lainnya
“Kesalahan ini bukan hanya masalah privasi digital, tetapi juga membahayakan keamanan fisik penerima paket,” tulis akun tersebut.
Akun tersebut juga memberi peringatan bahwa data pelanggan dan informasi rahasia yang dicuri dengan detail memungkinkan pihak-pihak jahat untuk memanfaatkannya.
Data tersebut sangat bernilai dalam melakukan penipuan COD, engineering sosial, pencurian identitas kurir, serta pemalsuan dokumen pengiriman.
Sampai saat ini JNE belum mengeluarkan pernyataan resmi. Masyarakat kini menantikan kejelasan dan tindakan cepat guna menghindari konsekuensi yang lebih besar.
Karena pengiriman barang dan logistik merupakan kebutuhan serta kepentingan masyarakat luas. (*)