Sportpreneur: Melengkapi Pembinaan Prestasi dengan Ekosistem Olahraga yang Berkelanjutan

by -30 Views

Oleh: Teguh Anantawikrama
(Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Transformasi Teknologi dan Digital)

Kita selalu bangga ketika Merah Putih berkibar dan lagu Indonesia Raya berkumandang di podium juara. Namun di balik setiap medali, terdapat proses panjang yang membutuhkan pembinaan berkesinambungan, dukungan teknologi, pelatih, nutrisi, sport science, hingga kesempatan bertanding yang memadai.

Fakta yang sering terlupakan adalah bahwa prestasi olahraga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Atlet tidak lahir dalam semalam. Prestasi adalah hasil investasi jangka panjang yang memerlukan kesinambungan.

Persoalannya, pembinaan olahraga di Indonesia masih sangat bergantung pada APBN dan APBD. Ketika terjadi perubahan prioritas anggaran atau tekanan fiskal, program pembinaan pun kerap terganggu. Tidak sedikit cabang olahraga yang mengalami kesulitan menjaga kesinambungan kompetisi dan regenerasi atlet karena keterbatasan pendanaan.

Padahal, negara-negara dengan prestasi olahraga yang kuat tidak hanya mengandalkan negara sebagai sumber pembiayaan. Mereka membangun ekosistem ekonomi olahraga yang mampu menopang pembinaan secara berkelanjutan. Mereka melahirkan sportpreneur—para entrepreneur yang membangun industri olahraga berbasis Intellectual Property (IP).

Di era modern, nilai terbesar olahraga bukan lagi sekadar tiket pertandingan, melainkan intellectual property. NBA, Formula 1, UFC, Tour de France, hingga Ironman pada dasarnya adalah kekuatan IP yang menghasilkan nilai ekonomi dari hak siar, sponsorship, lisensi, merchandise, konten digital, hingga pariwisata olahraga.

Indonesia sesungguhnya telah memiliki fondasi yang menjanjikan.

One Pride MMA telah berkembang menjadi panggung seni bela diri campuran terbesar di Indonesia. Lebih dari sekadar pertandingan, One Pride membangun komunitas, menciptakan atlet profesional, dan melahirkan industri pendukung yang terus berkembang.

Demikian pula OnePrix yang menjadi ajang balap motor nasional berjenjang. Selain menjadi wadah pembinaan pembalap muda, setiap penyelenggaraan seri OnePrix juga memberikan dampak ekonomi bagi daerah melalui sektor perhotelan, kuliner, transportasi, dan UMKM.

Di cabang olahraga endurance, Triathlon Series dan A-Stream Open Water Swimming berhasil membangun komunitas yang terus berkembang. Ribuan peserta dan pendamping yang datang dari berbagai daerah menciptakan perputaran ekonomi bagi destinasi penyelenggara melalui hotel, restoran, transportasi, dan berbagai usaha lokal lainnya.

Jakarta Marathon telah membuktikan bahwa olahraga dapat menjadi penggerak ekonomi kota. Setiap tahun puluhan ribu pelari dari berbagai daerah bahkan mancanegara hadir untuk mengikuti lomba tersebut. Okupansi hotel meningkat, transportasi bergerak, pusat perbelanjaan ramai, dan sektor UMKM ikut menikmati manfaat ekonomi yang tercipta.

Borobudur Marathon bahkan menjadi salah satu contoh terbaik bagaimana olahraga dan pariwisata dapat berjalan bersama. Ajang ini berhasil mengangkat Magelang sebagai destinasi sport tourism nasional. Ribuan peserta dan wisatawan yang datang setiap tahun memberikan multiplier effect bagi hotel, restoran, transportasi, industri kreatif, dan pelaku UMKM di sekitar kawasan Borobudur.

Fenomena ini menunjukkan bahwa olahraga sesungguhnya bukan sekadar aktivitas kompetisi, melainkan sebuah ekosistem ekonomi.

Menurut berbagai proyeksi industri global, ekonomi olahraga dunia diperkirakan akan terus bertumbuh dan berpotensi melampaui US$1 triliun dalam beberapa dekade mendatang. Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa dan kelas menengah yang terus berkembang, Indonesia memiliki pasar yang sangat besar untuk membangun industri olahraga berbasis IP lokal.

Karena itu, setiap event olahraga seharusnya tidak berdiri sendiri. Di sekelilingnya dapat dibangun pameran produk olahraga Indonesia, expo UMKM, festival kuliner, sport tourism, coaching clinic, konferensi sport science, industri apparel nasional, hingga platform digital dan media kreator yang memperkuat keterlibatan komunitas.

Dengan demikian, sebuah event tidak hanya menghasilkan juara, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, menghidupkan hotel dan restoran, meningkatkan kunjungan wisata, serta memberikan dampak ekonomi yang berputar di masyarakat.

Sudah saatnya Indonesia memiliki lebih banyak intellectual property olahraga lokal. Kita membutuhkan lebih banyak liga usia muda, seri open water swimming, trail running series, ultra marathon, kompetisi olahraga tradisional, hingga berbagai event berbasis komunitas yang dapat tumbuh menjadi aset nasional.

Sebab dengan memiliki IP sendiri, nilai tambah akan tetap berada di Indonesia. Hak siar dimiliki Indonesia. Sponsor berasal dari Indonesia. Merchandise diproduksi di Indonesia. Lapangan kerja tercipta di Indonesia. Dan manfaat ekonominya berputar di Indonesia.

Prestasi dan bisnis olahraga tidak seharusnya dipertentangkan. Justru keduanya saling melengkapi.

APBN tetap memiliki peran penting dalam pembinaan olahraga. Namun untuk menciptakan sistem yang berkelanjutan, Indonesia memerlukan lebih banyak sportpreneur yang berani membangun kompetisi, komunitas, dan intellectual property olahraga nasional.

Karena pada akhirnya, olahraga bukan hanya tentang medali.

Olahraga adalah kesehatan masyarakat.

Olahraga adalah industri.

Olahraga adalah pariwisata.

Olahraga adalah lapangan kerja.

Dan olahraga dapat menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi baru Indonesia.

Sudah saatnya Indonesia tidak hanya mencetak atlet.

Indonesia juga harus mulai mencetak sportpreneur.

Sebab masa depan olahraga Indonesia tidak hanya ditentukan oleh besarnya APBN, melainkan oleh keberanian membangun ekosistem olahraga yang berjenjang, berkelanjutan, dan memberikan manfaat ekonomi bergulir bagi seluruh rakyat Indonesia.

No More Posts Available.

No more pages to load.