Berita  

Sensasi Menonton Perahu Bidar Tradisional, Nostalgia yang Menggema

Sensasi Menonton Perahu Bidar Tradisional, Nostalgia yang Menggema

Aliran Sungai Musi pada hari Minggu, 17 Agustus 2025 siang terasa berbeda dibandingkan dengan hari-hari biasanya.Festival Perahu BidarTradisional, suasana menjadi lebih hangat dan meriah. Sebelumnya hanya dilalui perahu tongkang batu bara dan perahu yang menyediakan transportasi ke berbagai tujuan di Palembang.

Hari itu, dalam kondisi cuacaPalembangsangat panas, aliran Sungai Musi dihiasi oleh perahu bidar tradisional. Dari Benteng Kuto Besak (BKB) yang menawarkan pemandangan Jembatan Ampera, para awak perahu terlihat penuh antusiasme. Sesekali, perahu yang dihias dengan warna cerah dan bentuk khas melewati BKB. Perahu kecil milik warga juga turut memperindah suasana.

Sungai Musiseolah menjadi panggung besar bagi warga Palembang dan daerah lain. Penduduk dari berbagai lapisan berkumpul di tepi Sungai Musi. Dari hulu hingga hilir, setiap sudut dipenuhi penonton yang ingin menyaksikan Festival Perahu Bidar Tradisional. Namun, keramaian paling besar selalu terjadi di sekitar Benteng Kuto Besak (BKB), yang menjadi garis akhir lomba tersebut.

Tolong support kita ya,
Cukup klik ini aja: https://indonesiacrowd.com/support-bonus/

Beberapa titik seperti Tugu Belida, ikon Palembang, dan Benteng Kuto Besak ramai dikunjungi oleh penonton. Ada yang membawa tutup kepala, kacamata, bahkan membawa seluruh anggota keluarga untuk menyaksikan perahu bidar. Dari sana terdengar sorakan, dentuman drum, serta alunan musik tradisional yang bersatu. Seperti menjadi tradisi tahunan yang sulit ditinggalkan.

Tempat penyelenggaraan Festival Perahu Naga Tradisional, hari Minggu tanggal 17 Agustus 2025 di kawasan Benteng Kuto Besak, Palembang, Sumatera Selatan. Tempo/Yuni Rahmawati

Menyaksikan lomba perahu cepat di Sungai Musi merupakan pengalaman yang selalu dinantikan, karena hanya berlangsung setahun sekali, tepat pada Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Saat itu mengingatkan masa kecil saat duduk di bangku SD. Bersama teman-teman, kami segera pergi ke BKB setelah upacara peringatan kemerdekaan di sekolah agar bisa menyaksikan tradisi perahu yang telah bertahan ratusan tahun di Palembang.

Saat duduk di tepi pagar Benteng Kuto Besak (BKB), sambil menyaksikan para awak bidar yang bergerak serentak dan menghasilkan irama khas, terasa seperti kecanduan. “Cepat, sedikit lagi,” teriak warga dari berbagai arah di Benteng Kuto Besak. Ditambah dengan alunan musik yang bersatu dengan gelombang sungai. Acara ini bukan hanya lomba, tetapi juga sarana untuk bernostalgia.

Keramaian perahu setelah lomba perahu bidar tradisional selesai, menyebabkan Sungai Musi terasa kembali penuh kehidupan. Seperti yang terlihat pada masa lalu Palembang, di mana seluruh aktivitas kehidupan dan perdagangan berlangsung di sepanjang alur sungai. Bahkan Palembang, sebagai kota tertua di Indonesia, dikenal dengan julukan Venice dari Timur.

Namun jauh sebelumnya, ketika melihat kapal-kapal berlalu lalang dari hulu ke hilir, seolah-olah membayangkan bagaimana perjalanan panjang Kerajaan Sriwijaya, yang dahulu dikenal sebagai pusat maritim dan jalur perdagangan terbesar di Asia Tenggara.

Di tengah sorak-sorai penonton, semangat nostalgia semakin menguat. Setiap gerakan, setiap teriakan dukungan dari tepian sungai, menciptakan perasaan kebersamaan yang hangat. Seperti mengingatkan kita bahwa tradisi ini bukan hanya kompetisi, tetapi warisan budaya yang memperkuat identitas Palembang.