Kualitas Layanan Publik adalah Cermin Kualitas Manusianya

by

Oleh: Teguh Anantawikrama

Kita sering mengeluhkan rendahnya budaya layanan publik di negeri ini. Pelayanan yang lambat, aparat yang tidak ramah, masyarakat yang dianggap tidak terbuka terhadap perubahan, serta daerah yang sulit berkembang karena warganya “belum siap maju”.

Namun pertanyaan yang jarang kita ajukan adalah:
apakah masalah ini sekadar soal sistem, atau justru soal kualitas manusianya?

Saya berpendapat, dalam jangka panjang, kualitas layanan publik hampir selalu setara dengan kualitas manusia yang menjalankannya. Regulasi bisa disempurnakan, teknologi bisa diimpor, birokrasi bisa direformasi, tetapi tanpa manusia yang berkarakter, semua itu akan berhenti sebagai formalitas.

Di Mana Letak Kesalahan Kita sebagai Bangsa?

Kesalahan kita bukan pada kurangnya potensi, melainkan pada prioritas pembangunan manusia.

Selama puluhan tahun, pendidikan kita lebih menekankan:
• nilai akademik,
• gelar,
• jabatan,
• dan status sosial,

namun relatif mengabaikan pembentukan watak: kejujuran, rasa tanggung jawab, empati, dan semangat melayani.

Akibatnya, kita melahirkan banyak orang pintar, tetapi tidak selalu bijak. Terampil, tetapi tidak selalu peduli. Berpendidikan, tetapi miskin etos pelayanan.

Kita juga tanpa sadar memuliakan status lebih tinggi daripada kontribusi. Anak-anak kita tumbuh dengan mimpi “ingin jadi apa”, bukan “ingin memberi apa”. Dalam jangka panjang, ini mematikan api pengabdian.

Perlukah Kita Kembali pada Budi Pekerti?

Jawabannya: ya, dan itu mendesak.

Namun budi pekerti tidak boleh dipahami sebagai mata pelajaran tambahan atau hafalan normatif. Budi pekerti adalah cara hidup. Ia dibentuk melalui kebiasaan, keteladanan, dan lingkungan sosial.

Negara-negara yang berhasil membangun pelayanan publik berkelas dunia tidak hanya unggul secara teknologi, tetapi kuat dalam pendidikan karakter sejak usia dini: disiplin, tanggung jawab, rasa malu berbuat salah, dan penghormatan terhadap sesama.

Tanpa fondasi ini, teknologi justru bisa mempercepat kerusakan. Ilmu pengetahuan hanya akan memperbesar ego, bukan manfaat.

Teknologi dan Ilmu Pengetahuan: Mengapa Kita Tertinggal?

Masalah kita bukan kurang cerdas dan bukan anti-teknologi. Masalahnya, kita terlalu lama nyaman sebagai pengguna, bukan penggali.

Adaptasi terhadap kemajuan ilmu membutuhkan karakter:
• rasa ingin tahu yang tinggi,
• keberanian mencoba dan gagal,
• budaya bertanya tanpa takut disalahkan,
• dan semangat belajar sepanjang hayat.

Tanpa itu, teknologi hanya menjadi alat konsumsi dan hiburan, bukan sarana transformasi.

Fondasi yang Harus Kita Bangun

Jika kita ingin menyalakan kembali semangat menggali ilmu dan inovasi, setidaknya ada empat fondasi utama:

Pertama, rasa ingin tahu harus dihargai lebih tinggi daripada kepatuhan buta.
Bangsa maju lahir dari pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana jika”.

Kedua, makna hidup harus dikaitkan dengan kontribusi, bukan sekadar penghasilan.
Ilmu akan terus dicari jika manusia merasa hidupnya bermakna bagi orang lain.

Ketiga, rasa memiliki terhadap potensi alam dan bangsa.
Delapan puluh persen wilayah laut kita adalah laut dalam—belum tergarap sebagai sumber ilmu, teknologi, dan kekuatan geopolitik.
Tanah vulkanik kita termasuk yang tersubur di dunia, namun belum sepenuhnya menghadirkan kemaslahatan nasional.
Ini bukan soal sumber daya, tetapi soal manusia yang merasa terpanggil untuk mengelola, bukan sekadar mengambil.

Keempat, keteladanan.
Karakter tidak lahir dari ceramah, melainkan dari contoh hidup. Pemimpin yang terus belajar, rendah hati, dan melayani akan melahirkan masyarakat yang meniru.

Mengubah Arah Percakapan Bangsa

Sudah waktunya kita mengubah fokus diskursus nasional.

Bangsa besar tidak dibangun dari perdebatan tanpa akhir tentang batas bawah penghasilan,
melainkan dari kesadaran kolektif tentang batas atas kontribusi.

Pertanyaan terpenting bukan lagi:
• berapa yang saya dapatkan,

tetapi:
• apa yang saya sumbangkan,
• dampak apa yang saya tinggalkan,
• dan nilai apa yang saya wariskan.

Jika kualitas individu meningkat, layanan publik akan membaik dengan sendirinya. Inovasi akan tumbuh dari dalam. Dan Indonesia tidak hanya akan dibicarakan sebagai negara besar, tetapi diperhitungkan sebagai bangsa beradab dan berkontribusi bagi dunia.