Ketangguhan Indonesia yang Terus Diremehkan Dunia

by -78 Views

Oleh: Teguh Anantawikrama
(Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Transformasi Tehnologi dan Digital)

Setiap beberapa tahun, narasi yang sama selalu muncul: Indonesia dianggap tidak akan mampu bertahan menghadapi tekanan global.

Ketika krisis moneter Asia 1997–1998 menghantam, banyak pihak memprediksi Indonesia akan runtuh permanen. Saat era Reformasi dimulai, ada yang meyakini demokrasi akan memecah bangsa ini. Setelah tragedi bom Bali, sebagian pengamat menilai pariwisata Indonesia tidak akan pernah pulih. Ketika krisis keuangan global 2008 terjadi, Indonesia kembali dipandang terlalu rapuh untuk bertahan. Bahkan pada masa pandemi COVID-19, banyak yang memperkirakan Indonesia akan mengalami stagnasi panjang dan instabilitas sosial.

Namun sejarah berkali-kali membuktikan bahwa keraguan terhadap Indonesia hampir selalu keliru.

Indonesia selalu mampu bangkit.

Ketangguhan bangsa ini bukanlah sebuah kebetulan. Ia lahir dari perjalanan sejarah yang panjang dan karakter masyarakat Indonesia yang memiliki daya tahan luar biasa.

Sejak awal kemerdekaan tahun 1945, Indonesia sesungguhnya memulai perjalanan dengan keterbatasan yang sangat besar. Infrastruktur minim, tingkat pendidikan rendah, kemiskinan tinggi, dan konflik mempertahankan kemerdekaan terjadi di berbagai daerah. Agresi militer Belanda menghancurkan banyak wilayah, namun semangat mempertahankan kedaulatan tidak pernah padam.

Tidak banyak negara di dunia yang lahir dari perjuangan panjang sambil menjaga persatuan di tengah ribuan pulau, ratusan suku, bahasa, dan keberagaman agama seperti Indonesia.

Sejarah awal itu saja seharusnya sudah cukup untuk mengajarkan dunia agar tidak meremehkan Indonesia.

Krisis demi krisis berikutnya semakin memperlihatkan karakter bangsa ini.

Krisis Asia 1998 merupakan salah satu krisis ekonomi paling berat dalam sejarah modern. Ekonomi Indonesia terkontraksi lebih dari 13 persen. Nilai tukar rupiah runtuh. Inflasi melonjak di atas 70 persen. Ribuan perusahaan bangkrut dan jutaan masyarakat jatuh miskin dalam waktu singkat.

Pada saat itu banyak pihak asing memprediksi Indonesia akan mengalami disintegrasi sosial maupun politik.

Yang terjadi justru sebaliknya.

Indonesia melakukan reformasi besar-besaran. Sistem perbankan diperbaiki, demokrasi diperkuat, institusi negara dibangun ulang, dan kepercayaan investor perlahan kembali tumbuh. Dalam waktu relatif singkat, Indonesia kembali menjadi salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di Asia.

Hari ini, Indonesia telah menjadi ekonomi terbesar di Asia Tenggara, anggota G20 dan BRICS, dengan nilai ekonomi lebih dari US$1,3 triliun.

Yang menarik, ketahanan ekonomi Indonesia bukan hanya bertumpu pada ekspor atau kekuatan korporasi besar. Fondasi utamanya justru berada pada masyarakat itu sendiri.

Lebih dari 64 juta UMKM menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Sektor ini menyumbang sekitar 61 persen terhadap PDB nasional dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja. Dalam setiap krisis, UMKM selalu menjadi bantalan sosial ekonomi bangsa.

Ketika sektor formal melambat, masyarakat Indonesia tetap bergerak melalui ekonomi keluarga, usaha kecil, komunitas lokal, koperasi, dan solidaritas sosial.

Inilah kekuatan yang sering tidak terbaca oleh banyak analis global.

Ketahanan Indonesia sesungguhnya adalah ketahanan sosial.

Hal yang sama kembali terlihat saat pandemi COVID-19. Dunia mengalami kepanikan besar. Pariwisata lumpuh, rantai pasok terganggu, dan ketidakpastian meluas di seluruh sektor ekonomi.

Namun Indonesia mampu melewati masa sulit tersebut tanpa mengalami keruntuhan sistemik.

Masyarakat bergerak bersama. Organisasi sosial dan keagamaan membantu distribusi bantuan. UMKM bertransformasi ke platform digital. Ekonomi kreatif tumbuh. Adaptasi terjadi sangat cepat.

Ketika banyak negara mengalami tekanan berkepanjangan, Indonesia justru kembali tumbuh di atas 5 persen pada 2022 dan 2023.

Ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia memiliki kemampuan beradaptasi yang sangat tinggi.

Tetapi sesungguhnya, kekuatan terbesar Indonesia tidak hanya dapat diukur melalui angka-angka ekonomi.

Kekuatan terbesar Indonesia adalah budaya gotong royong.

Di tengah modernisasi dan digitalisasi, masyarakat Indonesia masih memiliki solidaritas sosial yang kuat. Struktur keluarga tetap kokoh. Organisasi kemasyarakatan dan keagamaan masih memainkan peranan penting dalam menjaga stabilitas sosial.

Dalam situasi sulit, masyarakat Indonesia memiliki naluri untuk bergerak bersama sebelum menunggu solusi formal datang.

Modal sosial seperti ini sangat langka di dunia modern.

Banyak negara maju memiliki pendapatan per kapita tinggi tetapi mengalami keretakan sosial ketika menghadapi tekanan besar. Indonesia, dengan segala kekurangannya, justru berkali-kali menunjukkan elastisitas sosial yang luar biasa.

Hari ini, ketangguhan itu menjadi semakin relevan dalam lanskap global yang penuh ketidakpastian.

Dunia sedang menghadapi fragmentasi geopolitik, perang dagang, krisis energi, perubahan iklim, dan ketidakpastian ekonomi global. Dalam situasi seperti ini, Indonesia memiliki posisi strategis yang sangat penting.

Indonesia berada di jalur utama Indo-Pasifik, memiliki sumber daya alam besar, bonus demografi, pasar domestik yang kuat, dan stabilitas sosial yang relatif terjaga.

Sekitar 70 persen populasi Indonesia berada pada usia produktif. Kelas menengah terus tumbuh. Konsumsi domestik menjadi penopang utama ekonomi nasional.

Di sektor hilirisasi mineral, energi baru terbarukan, ekonomi digital, industri halal, hingga pariwisata, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain utama dunia.

Ekonomi digital Indonesia bahkan diproyeksikan melampaui US$130 miliar dalam dekade ini. Cadangan nikel Indonesia yang termasuk terbesar di dunia juga menjadikan Indonesia pemain strategis dalam rantai pasok kendaraan listrik global.

Namun di tengah semua potensi tersebut, skeptisisme terhadap Indonesia masih terus muncul.

Sebagian masih melihat Indonesia hanya dari sisi birokrasi, kebisingan politik, atau tantangan infrastrukturnya. Mereka sering salah membaca dinamika demokrasi Indonesia sebagai kelemahan, padahal justru itulah tanda masyarakat yang hidup dan terus berkembang.

Sejarah menunjukkan bahwa meremehkan Indonesia hampir selalu menjadi kesalahan analisis.

Karena perjalanan Indonesia tidak pernah dibangun dalam situasi mudah.

Bangsa ini lahir dari perjuangan panjang.
Bangkit dari kolonialisme.
Bertahan dari krisis ekonomi.
Melewati transisi demokrasi.
Pulih dari ancaman terorisme.
Dan kembali bergerak setelah pandemi global.

Setiap krisis memang meninggalkan luka. Tetapi setiap krisis juga melahirkan kapasitas baru.

Karena itu, ketangguhan Indonesia bukan sekadar kemampuan bertahan.

Ketangguhan Indonesia adalah keunggulan strategis bangsa ini.

Dunia sering menilai Indonesia berdasarkan volatilitas jangka pendek. Padahal Indonesia seharusnya dinilai dari daya tahannya dalam jangka panjang.

Dan jika sejarah dapat dijadikan pelajaran, maka mereka yang terus meragukan ketangguhan Indonesia kemungkinan besar akan kembali terbukti salah.

No More Posts Available.

No more pages to load.