Iman Sudjahri, dari Pergerakan Pemuda ke Kesadaran Kebangsaan

by

Sebelum Republik Indonesia berdiri, Iman Sudjahri telah aktif dalam dinamika pergerakan nasional. Ia termasuk generasi intelektual muda yang melihat bahwa kemerdekaan tidak mungkin dicapai tanpa persatuan lintas identitas. Perannya sebagai salah satu motor Kongres Pemuda Pertama (1926) menempatkannya di jantung proses pembentukan kesadaran nasional Indonesia.

Kongres ini sering dipandang sebagai pendahulu ideologis Sumpah Pemuda 1928. Di sinilah gagasan tentang bangsa Indonesia dirumuskan secara rasional dan politis—bukan semata emosional. Iman Sudjahri berkontribusi dalam membangun kerangka berpikir bahwa kemerdekaan adalah proyek kolektif, bukan sekadar pergantian kekuasaan kolonial.

Negara dalam Bentuk Nyata: Politik dan Oeang Republik

Setelah Proklamasi 1945, tantangan republik bukan hanya mempertahankan wilayah, tetapi membuktikan eksistensi negara. Dalam konteks ini, Iman Sudjahri memainkan peran penting di dua sektor krusial.

Pertama, sebagai Sekretaris Jenderal Partai Sosialis Indonesia (PSI), ia berada di pusat perdebatan arah negara. PSI bukan sekadar partai, melainkan wadah pemikiran rasional tentang demokrasi, keadilan sosial, dan etika kekuasaan di tengah situasi revolusi bersenjata. Iman Sudjahri dikenal sebagai organisator yang mengutamakan disiplin, argumentasi, dan integritas.

Kedua, di bidang ekonomi, ia tercatat sebagai salah satu figur penting dalam pencetakan Oeang Republik Indonesia (Oeang Republik Indonesia / OERI). OERI bukan hanya alat transaksi, tetapi simbol kedaulatan. Di tengah blokade ekonomi dan upaya Belanda melemahkan republik, kehadiran mata uang sendiri adalah pernyataan politik yang sangat berani. Negara, dalam hal ini, diwujudkan dalam kertas, tinta, dan kepercayaan rakyat.

Penangkapan dan Negara dalam Pelarian

Keberanian itu membawa konsekuensi. Dalam masa agresi dan pendudukan Belanda (NICA), Iman Sudjahri ditangkap dan menjadi tawanan. Penangkapan ini bukan hanya memutus perannya dalam pemerintahan, tetapi juga mengguncang kehidupan keluarganya.

Selama ia berada dalam tahanan, keluarganya menjalani kehidupan dalam pelarian. Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain, menghindari pusat-pusat kontrol kolonial, hidup dengan identitas yang sering kali disamarkan. Negara Republik Indonesia tetap berjalan, tetapi dalam kondisi darurat—demikian pula kehidupan keluarga para pejabatnya.

Anak, Keponakan, dan Warisan Sunyi

Pengalaman ini membentuk generasi berikutnya.

Putrinya, Edi Sedyawati, tumbuh dalam suasana keterbatasan dan ketegangan politik. Masa kecil yang dijalani dalam pelarian dan ketidakpastian menumbuhkan kepekaan mendalam terhadap makna identitas dan kebudayaan. Tidak mengherankan jika kelak ia menjadi salah satu pemikir dan birokrat kebudayaan terpenting Indonesia, dengan perhatian besar pada warisan budaya dan jati diri bangsa.

Putri lainnya, Sutji Astutiwati, yang kemudian menikah dengan D.A. Peransi, juga mengalami masa pembentukan dalam konteks revolusi. Kehidupan keluarga mereka dibangun di atas ingatan tentang pengorbanan dan keteguhan moral, bukan kenyamanan material.

Dalam lingkar yang lebih luas, keponakannya NH Dini menyerap atmosfer keluarga pejuang ini. Tema-tema dalam karya NH Dini—tentang kemandirian, keberanian perempuan, dan pergulatan individu dengan struktur kekuasaan—dapat dibaca sebagai resonansi pengalaman hidup di sekitar revolusi dan pelarian.

Mr. Iman Sudjahri adalah contoh bagaimana revolusi Indonesia dijalani secara utuh: di ruang pemikiran, birokrasi, ekonomi, dan rumah tangga. Ia menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya berlangsung di medan tempur, tetapi juga dalam keputusan administratif, pencetakan uang, pendidikan anak, dan kesediaan keluarga untuk hidup tanpa kepastian.

Dalam dirinya, negara dan keluarga bertemu. Warisannya tidak hanya tercatat dalam dokumen sejarah, tetapi hidup dalam kontribusi kebudayaan dan intelektual generasi setelahnya. Ia adalah pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia dibangun bukan hanya oleh pidato dan senjata, tetapi juga oleh kesetiaan sunyi pada republik, bahkan ketika harus dibayar dengan kehilangan kebebasan pribadi dan masa kanak-kanak keluarga.