Berita  

Gelisah yang Pecah: Malam Renungan Kemerdekaan Teater Kampong di Bulukumba

Gelisah yang Pecah: Malam Renungan Kemerdekaan Teater Kampong di Bulukumba

Warta Bulukumba—Lampu jalan Kartini menyala redup saat suara pertama puisi pecah dari panggung terbuka. Di dekat Gedung Pinisi, kursi plastik dan tikar sudah penuh oleh warga yang sengaja hadir. Anak-anak berlari sejenak lalu berhenti ketika musikalisasi puisi dimulai. Malam itu, Rabu, 27 Agustus 2025, Bulukumba memiliki cara tersendiri merayakan kemerdekaan: melalui kata, nada, dan suara yang muncul dari berbagai generasi seniman.

Seperti kegelisahan yang pecah, kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian panjang semangat kreativitas Teater Kampong selama beberapa dekade di Bulukumba.

Beberapa seniman dari berbagai genre tampil bergantian di atas panggung sederhana. Latar Gedung Phinisi yang tinggi menciptakan kesan megah, meskipun pertunjukan diadakan dengan fasilitas minimal. Malam yang bertema Malam Renungan Kemerdekaan diselenggarakan oleh Teater Kampong. Sekretariat komunitas yang berada di Jalan Kartini, Bulukumba, tiba-tiba menjadi pusat perhatian.

Tolong support kita ya,
Cukup klik ini aja: https://indonesiacrowd.com/support-bonus/

Sabri Abian memimpin jalannya acara. Dengan ritme yang tenang, ia memberi kesempatan bagi setiap penampil untuk tampil dengan penuh kepercayaan. Tidak ada rasa tergesa-gesa. Penonton dibiarkan mendengarkan, menantikan kejutan berikutnya.

Suara anak, suara kemerdekaan

Dari komunitas seni mahasiswa hingga kelompok pelajar, panggung terbuka tersebut menjadi tempat untuk menunjukkan bakat. Seorang siswa SLB maju membacakan puisi. Suaranya tidak keras, tetapi setiap kata yang diucapkannya membuat penonton mendengarkan dengan lebih perhatian. Keberaniannya tampil di depan umum memicu tepuk tangan yang panjang.

Poin utama malam itu berfokus pada seorang anak kelas lima dari sekolah dasar. Ahmad Dihyah Alfian, murid SDN 58 Tanete, berdiri dengan percaya diri di depan mikrofon. Tubuhnya mungil, namun suaranya penuh keyakinan. Baris-baris puisi yang ia baca membuat suasana tiba-tiba sunyi. Tidak ada suara selain suara puisinya. Sejenak setelah ia selesai, tepuk tangan meledak dari segala penjuru. Bagi sebagian penonton, inilah momen paling mengesankan malam itu.

Daftar nama-nama lain turut memperkuat suasana. Budayawan Agusriadi Maula menyajikan puisi dengan nada yang dalam. Ichdar Al Farabi mengisi dengan pembacaan yang penuh refleksi. Andi Juanda menambahkan nuansa pribadi, sedangkan Ahmad Dharsyaf Pabottingi, pimpinan Teater Kampong, memberikan penutup yang erat terkait semangat komunitas.

Merayakan kemerdekaan lewat kata

Warga tetap berada hingga acara selesai. Beberapa sibuk mengambil gambar, sebagian lainnya duduk tenang dan menikmati. Lalu lintas di sekitar Jalan Kartini melambat, pengemudi sesekali melirik sebelum melanjutkan perjalanan.

Cahaya lampu Gedung Phinisi masih terpantul ke langit malam, menjadi latar belakang untuk pertunjukan yang sederhana namun penuh makna.

Pengajian Kemerdekaan malam itu tidak hanya mengumpulkan para penyair, musisi, dan penonton. Ia juga menunjukkan bahwa perayaan kemerdekaan bisa diadakan tanpa mercon atau panggung besar. Cukup dengan suara yang tulus, keberanian untuk berdiri, serta masyarakat yang bersedia mendengarkan. Di Bulukumba, malam itu, kemerdekaan disampaikan melalui puisi.***