WARTA LOMBOK
-Dunia kaget dengan ancaman mengkhawatirkan dari wakil Congress AS, yaitu Randy Fine, yang tanpa ragu mendesak serangan bom nuklir ke wilayah Jalur Gaza.
Komentar yang menimbulkan kontroversi itu dengan cepat mengundang kritikan, terutama dari kelompok perlawanan Palestina, Hamas.
Pada suatu wawancara yang dilakukan dengan Fox News pada hari Kamis, tanggal 22 Mei 2025, Randy Fine mengungkapkan pandangannya bahwa wilayah Gaza pantas “diserbu senjata nuklir”.
Tolong support kita ya,
Cukup klik ini aja: https://indonesiacrowd.com/support-bonus/
Bukan hanya itu saja, politisi Amerika Serikat tersebut juga menggambarkan daerah Jalur Gaza mirip dengan Hiroshima dan Nagasaki, yaitu dua kota di Jepang yang sempat hancur berkeping-keping karena serangan bom atom dari AS pada penghujung Perang Dunia Kedua.
Ucapan kontroversial yang diutarakan oleh Randy Fine langsung menimbulkan gelombang amarah dari banyak orang.
Setelah mendengar pernyataan tersebut, Hamas langsung menyuarakannya dengan penolakan tegas. Pernyataan Randy Fine ini dituduhkan oleh mereka sebagai dorongan nyata dan terbuka untuk melancarkan pemusnahan etnis atau genosida atas lebih dari dua juta Warga Sipil di Gaza.
“Pernyataan ekstremis tersebut merupakan pelanggaran serius dan mencerminkan sikap fasisme rasial yang mendominasi pemikiran para politisi di Amerika Serikat,” demikian kata juru bicara Hamas melalui pernyataan tertulis, seperti dilaporkan Warta Lombok berdasarkan situs Anadolu Agency pada hari Senin, tanggal 26 Mei 2025.
Diketahui, Kelompok Perlawanan itu menegaskan bahwa komentar Randy Fine bukan hanya tidak berperikemanusiaan, tetapi juga melanggar Hukum Internasional, termasuk Konvensi Jenewa.
Mereka menganggap undangan itu sebagai jenis kriminalitas serius yang tak bisa dilupakan oleh komunitas global.
Dengan amarah, Hamas menggambarkan pernyataan pejabat senior Amerika Serikat sebagai provokasi jelas yang mendorong penggunaan senjuta pemusnah masal terhadap warga sipil.
Mengenai pernyataan yang menakutkan itu, Hamas menyampaikan bahwa Dunia harus memandang hal ini sebagai ancaman serius bagi kemanusiaan.
Berikut ini adalah informasinya, Randy Fine merupakan seorang politisi dari Partai Republik yang terkenal karena paham konservatifnya yang tegas.
Ucapan tersebut tentang daerah Palestina semakin memanasnya tensi yang sudah tegang di kawasan Timur Tengah, apalagi dengan berlanjutnya tindakan kekerasan dan embargo terhadap Jalur Gaza yang mendapat kepungan kritik dari seluruh dunia.
Randy Fine membandingkan Gaza dengan Hiroshima dan Nagasaki, dua tempat yang telah lama jadi ikon kerusakan serta penderitaan karena serangan senjata nuklir.
Kira-kira 215.000 jiwa meninggal karena dampak dari kedua bom atom tersebut, dan insiden tragis ini tetap tertanam dalam ingatan umat manusia.
Sekarang, Randy Fine menghidupkan kembali bayangan suram dari masa lalu itu, dengan fokus pada jalur Gaza sebagai targetnya.
Hamas juga dengan tegas mengkritik argumen Randy Fine dan mendeskripsikannya sebagai “usaha yang tak berperikemanusiaan untuk membinasakan penduduk Palestina.”
Mereka menyatakan bahwa pernyataan seperti itu sebenarnya memperlihatkan sisi sesungguhnya dari Israel serta para pemimpinnya yang ada di pentas internasional.
Kata-kata semacam itu, menurut Hamas, hanya menguatkan komitmen kelompok perlawanan Palestina untuk tetap bertahan dalam pemberontakan mereka terhadap pendudukan Israel.
Apabila diteliti lebih lanjut, Hamas menganggap pernyataan politisi Amerika Serikat tersebut sebetulnya bertujuan agar kelompok perlawanan Palestina menyerah.
Namun, justru terjadi kebalikan dari itu, yakni membara semangat juang kelompok-kelompok perlawanan Palestina.
Pernyataan itu pun berfungsi sebagai peringatan bagi Organisasi-organisasi Sosial dan Aktivis HAM.
Banyak orang bertanya-tanya, mengapa seseorang yang berada di jajaran pejabat tinggi negara seperti Amerika dapat begitu mudahnya mendukung penggunaan senjata pemusnah massal yang ada di dunia ini?
Masyarakat internasional sekarang dihadapkan dengan tantangan agar tidak diam. Bila permintaan seperti itu dilupakan tanpa adanya akibat, dapat terbentuk preseden yang membahayakan, yaitu bahwa kekerasan nuklir mungkin menjadi pilihan politik yang valid.
Pada saat yang sama, warga Gaza tetap menghadapi kehidupan dalam bayang-bayang serangan, blokade, serta sekarang ini, ancaman nuklir dari Negara Superpower.
Meskipun begitu, penduduk Gaza menegaskan bahwa mereka tidak gentar, dan menganggap ancaman dari politisi Amerika Serikat tersebut tidak akan membatalkan hak rakyat Palestina dalam menjalani kehidupan dengan bebas dan mandiri. ***