Pernahkah kau bangkit pada subuh dan merasakan seolah-olah tadi malam kau bermimpi tentang sesuatu yang ganjil atau mempesona, tetapi tak dapat membayangkannya secara jelas?
ternyata, ini tidak semudah itu terjadi. Banyak individu merasakan kesulitan dalam mengenang imajinasi tidur mereka, dan secara tak sadar, mereka telah membentuk kebiasaan atau gaya hidup spesifik yang berdampak pada kapabilitas pikiran untuk merekam kenangan tentang mimpi tersebut.
Impian adalah elemen penting dalam siklus tidur kita, khususnya ketika masuk ke fase tidur REM (Rapid Eye Movement). Akan tetapi, beberapa kebiasaan sederhana yang sering diabaikan bisa menggangu jalannya hal tersebut.
Tolong support kita ya,
Cukup klik ini aja: https://indonesiacrowd.com/support-bonus/
Pada artikel kali ini, kami akan menjabarkan berbagai karakteristik atau perilaku umum yang sering ditunjukkan oleh individu-individu dengan kesulitan dalam mengenang mimpi-mimpi mereka. Bisa jadi, satu di antara pola tersebut adalah sesuatu yang tak disadari pun Anda kerjakan setiap hari.
Berdasarkan halaman Parent from Heart pada hari Sabtu (24/5), berikut adalah tujuh karakteristik yang umumnya ditunjukkan oleh orang-orang yang kesulitan mengingat mimpi mereka.
1. Pola tidur yang berubah-ubah
Salah satu alasan pokok kenapa orang kesulitan untuk mengingat mimpi mereka adalah kurangnya rutinitas dalam pola tidurnya.
Beristirahat dan berganti bangun pada jam yang tidak tetap tiap harinya dapat mengacaukan pola tidur bawaan tubuh kita, dikenal juga dengan sebutan siklus sirkadian.
Sebenarnya, tubuh kita sangat menghargai rutinitas, termasuk pola tidur. Mimpi umumnya muncul selama tahap tidur yang dikenal sebagai REM (Pergerakan Mata Cepat).
Apabila rutinitas tidur terganggu, maka tubuh mungkin tidak dapat mencapai tahapan tersebut dengan baik. Hal ini pada gilirannya membuat mimpi tampak kabur dan memudahkan ingatan akan mimpi itu hilang.
Maka dari itu, terbiasa pergi tidur dan bangun pada waktu yang sama tiap harinya akan sangat bermanfaat bagi peningkatan mutu istirahat serta menambah peluang untuk dapat mengenang mimpi-mimpi secara lebih jernih.
2. Enggan menyisihkan waktu untuk berpikir sejenak usai terbangun dari tidur
Banyak orang dengan cepat melanjutkan aktivitas setelah bangun tidur, tanpa mengambil waktu istirahat singkat untuk hanya duduk tenang dan memikirkannya tentang apa yang tadi malam mereka impikan.
Sebenarnya, mimpi cenderung lenyap dengan sangat cepat dari memori. Apabila kita tak langsung berusaha mengingatnya sesaat setelah membuka mata, kenangan tersebut bakalan sirna tanpa jejak.
Sediakan kurang lebih 5 hingga 10 menit untuk terus berbaring dengan tenang, tutup lagi mata Anda, dan biarkan pemikiran kembali mengambang ke dalam atmosfer impian yang baru saja dijalani.
Semakin kerap kita mengerjakan rutinitas ini, bakal meningkat pula kapabilitas dalam meremembrancemimpi. Hal tersebut tidak sekadar berkaitan dengan peningkatan memori dari mimpi-mimpimu, namun juga bisa membantu melatih kewaspadaan diri secara menyeluruh.
3. Derajat stres yang cukup tinggi
Saat seseorang tengah merasakan stres emosional atau memikul bebannya yang besar, perhatian serta kesadaran mereka umumnya dipenuhi dengan segudang ketakutan, membuat area untuk mengenali imajinasi jadi amat sempit.
Di samping itu, stres bisa menurunkan mutu istirahat Anda dan menyebabkan tidurnya tak pulas atau berhenti tiba-tiba di pertengahan malam.
Apabila istirahat tertunda, fase REM (Rapid Eye Movement) yang krusial bagi mimpi mungkin akan dipotong atau tidak berjalan optimal.
Untuk alasan ini, sangatlah krusial untuk mencari metode pengelolaan stres dengan cara yang sehat, misalnya lewat senam ringan, meditasi, memutar lagu-lagu yang menyejukkan pikiran, ataupun cukup dengan bercerita kepada saudara dekat Anda.
Dengan pola pikir yang lebih damai serta kesehatan mental terjaga, istirahat malam menjadi lebih baik, sehingga memori tentang mimpi juga dapat dengan mudah tertangkap.
4. Mengabaikan pentingnya mimpi
Banyak individu memandang remeh mimpi sebagai hal tak berarti yang disebut juga bunga tidur, sehingga meremehkannya serta enggan untuk mengingatkannya. Sikap seperti itu membuat mereka tidak memiliki dorongan dalam usaha mengenali apa yang dialami saat tertidur lelap tersebut.
Sebetulnya, impian hanyalah pantulan dari pemikiran tak sadar kita. Dalam alam mimpilah rahasia-rahasia krusial dapat terselip, misalnya rasa takut, harapan, ataupun hasrat yang belum pernah disadari saat berada di kehidupan nyata.
Apabila seseorang memulai untuk fokus terhadap mimpinya, seperti dengan berkeinginan mengenang mimpi-mimpi sebelum tertidur, atau mencoba menyelami arti dari mimpi tersebut selepas bergaduh, maka alam bawah sadarnya juga akan bereaksi.
Kami menjadi lebih cepat dalam mengenang impian serta mungkin akan mendapatkan pemahaman terbaru tentang diri kita sendiri.
Menghormati impian tidak berarti mempercayai tanpa syarat, tetapi justru memberikan kesempatan kepada diri kita sendiri untuk lebih memahami aspek paling dalam dari jiwa kita.
5. Kekurangan stimulasi pikiran sepanjang hari
Seseorang yang jarang memicu pikirannya melalui aktivitas seperti berfikir kritis, membaca, belajar, ataupun menciptakan sesuatu biasanya mengalami mimpi yang samar atau mungkin tak bernyanyi sama sekali (atau tidak menyadarinya jika sedang bermimpi).
Kepala kita berfungsi layaknya otot; makin kerap dipergunakan, kian terbentuk kekuatan serta aktivitasnya.
Saat kita membaca buku, memecahkan teka-teki, menguasai sesuatu yang baru, atau melibatkan diri dalam kegiatan yang mendorong imajinasi, kita sebenarnya menyediakan ‘bahan bakar’ bagi pikiran agar dapat menciptakan mimpi-mimpi yang lebih jelas dan bermakna.
Oleh karena itu, sangatlah penting untuk mempertahankan keaktifan otak sepanjang hari sehingga ketika malam datang, kita dapat dengan lebih mudah mengenang mimpi-mimpi yang telah dialami.
Mimpi dapat berubah menjadi suatu perjalanan dalam pikiran yang menggembirakan, selama kita memberikan cukup ruang serta stimulasi pada otak agar hal tersebut terwujud.
6. Lewatnya jam makan atau mengonsumsi makanan sangat dekat dengan waktu tidur
Rutinitas pola makan memiliki dampak signifikan pada mutu istirahat, yang dengan cara terselubung pula bisa berpengaruh terhadap kapabilitas individu untuk mengenang mimpi mereka.
Banyak individu yang mengabaikan sarapan atau justru menyantap makanan di jam-jam sangat dini pagi akibat padatnya aktivitas mereka. Namun demikian, tubuh kita perlu periode tertentu agar dapat mencerna makanan secara efektif sebelum beristirahat.
Apabila kita mengonsumsi makanan mendekati waktu istirahat malam, tubuh akan fokus untuk memecahkan makanan tersebut ketika kita coba tidur, sehingga hal ini dapat menyebabkan kualitas tidur kurang baik.
Tiduran yang tidak nyenyak dapat mempengaruhi pula tahap bermimpi. Seharusnya, kita menyantap makan malam setidaknya 2-3 jam sebelum istirahat, serta lebih baik untuk menjauhkan diri dari konsumsi makanan berat atau pedas.
Perubahan sederhana pada pola makan dapat sangat mendukung peningkatan mutu istirahat serta menguatkan kenangan akan mimpi-mimpi Anda.
7. Belum terbiasa merekam mimpi
Salah satu metode terbaik untuk membuat seseorang dapat mengingat mimpi mereka adalah dengan menjadikan kebiasaan menuliskan pengalaman tidurnya tiap kali ia tersadar dari tidurnya.
Banyak individu yang tak memiliki kebiasaan tersebut, jadi wajar saja apabila mereka menyatakan bahwa mereka sangat jar infrequently hingga sama sekali tidak pernah mengenangkan mimpinya.
Sebenarnya, menuliskan mimpi, bahkan jika hanyalah sebagian kecil gambargambar, rasa-rasanya, atau kalimat kabur, bisa membantu memperkokoh kenangan kita tentang pengalaman tidur itu.
Mempersiapkan sebuah buku catatan atau jurnal mini di dekat ranjang, kemudian mencatat segala hal yang muncul dalam pikiran setelah baru saja bangun tidur, dapat memberikan manfaat yang besar.
Semakin sering dilakukan, otak kita akan semakin terbiasa untuk ‘mereka’ mimpi dan mengirimkan sinyal bahwa mimpi tersebut penting untuk diingat.
Tetapi, kita dapat mengidentifikasi pola, motif yang kembali hadir, atau pesan spesifik dalam mimpi-mimpi yang kerap terjadi.