news  

Pemkab Tangerang Revitalisasi Kampung Nelayan Tanjung Kait dengan Dana Rp 13 Miliar

Pemkab Tangerang Revitalisasi Kampung Nelayan Tanjung Kait dengan Dana Rp 13 Miliar

Revitalisasi Kampung Nelayan Tanjung Kait: Program Kolaboratif untuk Meningkatkan Kualitas Hidup

Pemerintah Kabupaten Tangerang saat ini sedang melakukan revitalisasi terhadap sebuah kampung nelayan yang berada di Desa Tanjung Anom, Kecamatan Mauk. Kampung tersebut dikenal dengan nama Tanjung Kait dan berdiri di atas lahan seluas 1,3 hektare. Di kawasan ini tinggal sebanyak 110 keluarga yang sebelumnya hidup dalam kondisi yang kurang layak.

Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid, menjelaskan bahwa program revitalisasi ini merupakan bagian dari Program Sistem Lingkungan yang Aman Ramah dan Berkesinambungan (Selaras). Tujuan utama dari program ini adalah untuk membenahi 1.000 unit rumah tak layak huni setiap tahunnya. Dengan pendekatan kolaboratif, Pemkab Tangerang bekerja sama dengan pihak ketiga untuk mewujudkan program ini.

Program ini diwujudkan melalui pendanaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta kerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat. Menurut Bupati, program Selaras ini merupakan kelanjutan dari inisiatif Gebrak Pakumis yang telah dilakukan pada masa kepemimpinan Bupati Ahmed Zaki Iskandar.

Tolong support kita ya,
Cukup klik ini aja: https://indonesiacrowd.com/support-bonus/

Kolaborasi dengan Lembaga Swadaya Masyarakat

Salah satu mitra yang terlibat dalam program ini adalah Habitat for Humanity Indonesia, sebuah lembaga nirlaba yang berbasis di Atlanta, Amerika Serikat. Erwin Mawandy, Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Tangerang, menjelaskan bahwa kolaborasi ini membantu menghemat anggaran APBD. Contohnya, dalam proyek revitalisasi kampung nelayan Tanjung Kait, dana yang diperlukan bisa diminimalkan hingga Rp 5,7 miliar dari total kebutuhan sebesar Rp 13 miliar.

Kolaborasi ini juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Selain pembangunan fisik, program ini juga mencakup edukasi sanitasi, penguatan komunitas, dan pemberdayaan ekonomi. Hal ini dilakukan oleh lembaga seperti Habitat for Humanity Indonesia bersama mitra donor seperti Prudential.

Infrastruktur dan Fasilitas yang Disiapkan

Revitalisasi kampung nelayan Tanjung Kait dirancang dengan konsep hunian layak dan sehat. Fasilitas utama yang disediakan antara lain infrastruktur jalan, air bersih, penerangan, Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), dan balai warga. Selain itu, akan dibangun dermaga dan Tempat Pengumpulan Ikan (TPI) serta Titik Penjualan Makanan Laut (TPML) untuk mendukung kemandirian ekonomi para nelayan.

Selain itu, juga disiapkan Ruang Terbuka Hijau dan Tempat Pengolahan Sampah Sementara. Dalam penataan kawasan ini, luas lahan yang digunakan untuk pembangunan 110 unit rumah mencapai 6.600 meter persegi. Sisanya digunakan untuk pembangunan jalan utama, jalan lingkungan, dan fasilitas umum lainnya.

Proses Pembangunan dan Partisipasi Warga

Proses pembangunan 110 unit rumah nelayan saat ini sudah mencapai tahap pemasangan tiang-tiang dan penembokan dinding. Warga nelayan juga diberi kebebasan untuk menyesuaikan desain rumah sesuai keinginan mereka. Misalnya, teras rumah dapat disesuaikan untuk membentang jala, sementara dapur dan warna cat rumah bisa dipilih sendiri oleh pemilik.

Selain itu, warga juga diharuskan membantu tukang selama 5 jam per hari dalam proses pembangunan rumah mereka. Hal ini menjadi bagian dari partisipasi aktif masyarakat dalam program revitalisasi ini.

Sejarah Kampung Nelayan dan Perubahan yang Diinginkan

Kampung nelayan Tanjung Kait awalnya berdiri di atas lahan milik seorang anggota Kelenteng Tjoe Soe Kong. Lahan ini berbatasan langsung dengan bangunan kelenteng yang telah ada sejak tahun 1792. Seiring waktu, kampung ini berkembang melalui migrasi penduduk yang membangun rumah di sekitar area tersebut.

Habitat for Humanity Indonesia kemudian bekerja sama dengan Koperasi Mitra Dhuafa (Komida) untuk membeli tanah kampung senilai Rp 2,2 miliar. Setelah itu, sebanyak 87 nelayan membayar dengan cara angsuran, sementara sisanya melunasi biaya tanah. Nilai tanah dan administrasi sebesar Rp 20 juta untuk ukuran 60 meter persegi.

Di atas setiap tanah tersebut, Habitat beserta mitra donor seperti Prudential membangun rumah seluas 30 meter persegi senilai Rp 52 juta yang diberikan secara hibah kepada seluruh 110 keluarga nelayan. Rumah-rumah ini memiliki teras, ruang tamu, kamar tidur, dan kamar mandi. Sedangkan dapur dibangun secara swadaya oleh masyarakat.

Harapan Masyarakat

Warga Kampung Tanjung Kait, Tuti Alawiyah, menyampaikan rasa senang karena rumah dan kampungnya yang dulu kumuh akan berubah menjadi hunian yang lebih baik. Ia sangat berterima kasih atas program revitalisasi ini dan berharap pembangunan segera selesai. “Kami berterima kasih,” ujarnya.