news  

Starlink Hentikan Penerimaan Pelanggan Baru di Indonesia: Profil Perusahaan Ini

Starlink Hentikan Penerimaan Pelanggan Baru di Indonesia: Profil Perusahaan Ini

Tanggapan Asosiasi Telekomunikasi terhadap Layanan Starlink di Indonesia

Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) merespons kabar bahwa layanan Internet satelit Starlink berhenti menerima pelanggan baru di Indonesia. Direktur Eksekutif ATSI, Marwan O. Baasir, mengatakan bahwa informasi ini dianggap sebagai angin segar bagi keberlanjutan bisnis pelaku layanan telekomunikasi di dalam asosiasi tersebut. “Saya lebih cenderung melindungi penyelenggara anggota ATSI karena keberlanjutan bisnisnya menjadi prioritas utama,” ujar Marwan.

Apa Itu Starlink?

Starlink adalah proyek dari SpaceX, perusahaan teknologi luar angkasa asal Amerika Serikat yang didirikan oleh Elon Musk pada 6 Mei 2002. SpaceX dikenal atas inovasi dalam pengembangan roket yang dapat digunakan kembali dan pesawat antariksa Dragon yang digunakan untuk mengirim pasokan ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Pada 2015, Elon Musk memperkenalkan proyek baru bernama Starlink yang bertujuan menyediakan akses Internet broadband berkecepatan tinggi ke seluruh dunia melalui jaringan satelit kecil yang mengorbit Bumi.

Tolong support kita ya,
Cukup klik ini aja: https://indonesiacrowd.com/support-bonus/

Solusi untuk Keterbatasan Infrastruktur

Gagasan utama dari Starlink adalah memberikan solusi untuk keterbatasan infrastruktur jaringan Internet konvensional, terutama di wilayah-wilayah terpencil yang sulit dijangkau oleh jaringan kabel atau serat optik. Sistem Starlink menggunakan ribuan satelit mini dengan ukuran sekitar satu meter kubik dan bobot sekitar 260 kilogram yang mengorbit di ketinggian sekitar 550 kilometer dari permukaan Bumi.

Orbit rendah ini diklaim bisa membuat koneksi Internet menjadi lebih cepat dan stabil dibandingkan satelit-satelit komunikasi konvensional yang berada di orbit geostasioner. Visi Elon Musk melalui proyek Starlink adalah menghubungkan masyarakat global secara digital, menjadikan konektivitas Internet dapat diakses di mana pun dan oleh siapa saja.

Pengembangan Layanan Starlink

Layanan Starlink mulai diperkenalkan secara terbatas kepada publik dalam bentuk beta berbayar di Amerika Serikat pada 2020. Sejak itu, Starlink mulai diperluas ke sejumlah negara lain seperti Inggris pada awal 2021. Satelit Starlink dirancang dengan teknologi yang memungkinkan produksi dalam jumlah besar namun tetap efisien secara biaya dan kinerja.

Antena penerima sinyal dari Starlink, yang berbentuk seperti piringan parabola, dirancang agar mudah dipasang dan digunakan. Antena ini dilengkapi dengan chip berbasis ARM Cortex-A53 dan menjalankan sistem operasi kernel Linux, yang mencerminkan kecanggihan teknologi yang tertanam dalam setiap perangkatnya.

Tanggapan ATSI terhadap Starlink

Menurut Marwan, ATSI sudah lama menyampaikan pendapat mengenai layanan Starlink di Indonesia, termasuk ke Komisi Persaingan Pengawasan Usaha (KPPU). Soal persaingan dengan Starlink, Marwan menjelaskan bahwa hal tersebut tetap ada, namun media yang digunakan operator seluler dalam negeri dan Starlink untuk menyediakan jaringan Internet berbeda, yakni frekuensi darat dan satelit. “Beberapa tahun lalu kami sudah menyampaikan ke KPPU. Karena ini persaingan usaha ada, tapi kan medianya beda,” kata Marwan.

Saat ini, ATSI masih menunggu pernyataan pemerintah mengenai status layanan Starlink di Indonesia. “Kami lagi menunggu dari pemerintah, karena pemerintah katanya juga akan memberikan tanggapan,” ujarnya.

Kabar Terbaru tentang Starlink di Indonesia

Informasi bahwa Starlink tidak lagi membuka pendaftaran pengguna baru di Indonesia diumumkan melalui blog perusahaan. “Layanan Starlink saat ini tidak tersedia untuk pelanggan baru di wilayah Anda karena kapasitas yang terjual habis di seluruh Indonesia,” pengumuman tertulis Starlink.