, JAMBI – Pengamat Politik dari Universitas Nurdin Hamzah Jambi, Dr Pahrudin HM mengomentari partisipasi politik masyarakat dalam penyelenggaraan Pemungutan Suara Ulang (PSU) untuk pilbup Bungo 2024 yang akan berlangsung pada tanggal 5 April mendatang.
Menurut dia, hal ini menjadi suatu tantangan bagi penyelenggara agar bisa memperkuat ikutan politik di kalangan masyarakat.
Pernyataan Pahrudin bergantung pada penyelenggara acara yang harus melaksanakan sosialiasi luas di kalangan publik, karena hal ini akan mempengaruhi pilihan akhir bagi posisi Bupati Bungo selanjutnya.
“Selanjutnya hal ini pun sangat bergantung pada bagaimana tim setiap calon mengeluarkan segala usaha supaya warga dapat mendatangi Tempat Pemungutan Suara dan memutuskan pilihan mereka,” jelasnya, Kamis (3/4/2025).
Pahrudin menambahkan pula bahwa PSU di Bungo ini cukup rentan terhadap penipuan, khususnya praktik money politics.
“Setiap pihak memiliki kepentingan tersendiri agar dapat memenangkan pemilihan kepala daerah di Bungo tahun 2024 dengan cepat, hal ini bisa menyebabkan kemunculan praktik suap meski menurut penilaian kita sendiri, peluang adanya suap tersebut malah lebih besar jika dilakukan sebelum bulan Ramadhan karena alasan finansial dan sosial. Setelah Idul Fitri pun masih banyak yang melanjutkannya walaupun dampak sosialnya mungkin kurang signifikan,” ungkapnya.
Dia juga menyatakan bahwa ada potensi untuk mobilitas dan pengintimidasan, mengingat setiap calon memiliki kepentingan sendiri sehingga mungkin saja mereka akan mencoba memaksa pemilih untuk hanya memutuskan pilihan pertama atau kedua, serta dapat jadi mereka bakal mencegah warga dari hadir di Tempat Pemungutan Suara (TPS).
“Lalu, konflik sosial pun cukup mungkin timbul akibat hal tersebut amat penting, sebab semakin banyak kepentingan seseorang di dalam suatu persaingan, maka tingkat konfliknya juga bakal naik secara negatif,” katanya.
Dalam 21 Tempat Penghitungan Suara (TPS) yang akan menyelenggarakan Pemilihan Ulang (PSU), Pahrudin menuturkan bahwa pasangan Dedy-Dayat serta Jumiwan-Maidani mempunyai kesempatan yang setara untuk meraih keberhasilan.
“Sosialmente, kedua puluh satu TPS tersebut menjadi fondasi utama bagi Jumiwan, namun secara politik pasangan Dedy-Dayat lebih difavoritkan karena putusan MK yang menjadikan mereka berada dalam posisi unggul dengan selisih kira-kira 2.700 suara,” jelasnya.
Jadi apabila Jumiwan-Maidani berkeinginan untuk menguasai persaingan dalam PSU ini, setidaknya mereka harus mendapatkan sedikitnya 5000 suara dari kisaran 8000 suara yang menjadi incuan (DPT).
“Dalam keadaan semacam ini, Dedy-Dayat sebenarnya sangat diuntungkan dan berpotensi menduduki posisi terdepan untuk memenangkan PSU ini,” demikian katanya.
Namun tentunya hal itu bergantung pada bagaimana tim lapangan dari Dedi-Dayat dapat mengumpulkan kekuatan agar mencapai suara optimal, demikian pula dengan Jumiwan-Maidani. Oleh karena itu, kedua paslon tersebut sangat dipengaruhi oleh kinerja tim di lapangan yang harus memaksimalkan kelebihan sambil menutupi kelemahan mereka sebagai strategi penentu dalam persaingan PSU Bungo tahun 2025,” ungkapnya.