Berita  

Psikologi di Balik Pembelian Berlebihan: Mengapa Kita Sering Belanja dan Cara Mengendalikannya

Psikologi di Balik Pembelian Berlebihan: Mengapa Kita Sering Belanja dan Cara Mengendalikannya

– Berbelanja memang mengasyikkan. Namun, di balik kegembiraan saat menekan tombol “checkout” atau membawa pulang tas belanjaan, terdapat aspek psikologis yang memengaruhi sikap konsumtif seseorang. Peristiwa ini bukan hanya berkaitan dengan kebutuhan akan barang, tetapi lebih dalam menyangkut kondisi mental dan cara otak merespons dorongan emosional.

Berdasarkan laporan dari Verywell Mind (2023), psikologi konsumen mengkaji bagaimana pikiran, emosi, keyakinan, dan persepsi seseorang memengaruhi cara mereka dalam membeli produk atau layanan.

Faktor perasaan sering kali lebih menguasai daripada kebutuhan logis. Contohnya, seseorang mungkin membeli pakaian baru meskipun lemari sudah penuh, hanya agar merasa lebih percaya diri atau diterima dalam lingkungan sosialnya.

Tolong support kita ya,
Cukup klik ini aja: https://indonesiacrowd.com/support-bonus/

Mengapa Orang Menjadi Konsumtif?

Penelitian yang diterbitkan di Cogent Psychology Journal (Taylor & Francis, 2024) mengungkap bahwa tindakan konsumsi berkaitan erat dengan keinginan psikologis untuk mendapatkan pengakuan sosial, mencari kepuasan seketika, serta mengalihkan tekanan emosional. Dalam era media sosial, tren belanja online semakin memperkuat pola perilaku ini. Penawaran diskon, sale cepat, dan iklan yang disesuaikan dengan minat membuat otak lebih sulit menahan godaan.

Artikel yang dimuat dalam Advances in Research Indonesia (2023) menyatakan bahwa perilaku konsumsi yang berlebihan juga dipengaruhi oleh faktor internal seperti rasa percaya diri yang rendah, stres, dan kecemasan. Berbelanja sering kali dianggap sebagai cara instan untuk mengatasi perasaan negatif, meskipun efeknya bersifat sementara saja.

Tidak semua individu memiliki tingkat kerentanan yang sama terhadap perilaku konsumtif. Berdasarkan Journal of Character Education (Unesa, 2022), remaja dan mahasiswa merupakan kelompok yang paling rentan terhadap pengaruh tersebut karena identitas mereka masih dalam proses perkembangan. Mereka cenderung memandang belanja sebagai simbol dari status sosial dan cara untuk memperkuat citra diri.

Selain itu, karyawan kantoran yang mengalami stres berat juga memiliki risiko tinggi untuk menunjukkan kebiasaan belanja yang tidak terkendali. Laporan dari American Psychological Association (APA, 2021) menyatakan bahwa stres jangka panjang dapat memicu tindakan konsumsi berlebihan sebagai cara untuk melarikan diri.

Apa Dampak Jangka Panjangnya?

Dampak dari perilaku konsumtif tidak hanya terbatas pada aspek keuangan. Penelitian yang diterbitkan dalam Psikoneo Journal (Unmul, 2021) menunjukkan bahwa perilaku ini bisa mengurangi tingkat kepuasan hidup, memicu rasa menyesal, serta meningkatkan beban psikologis. Seseorang mungkin merasa bersalah setelah berbelanja, tetapi masih melakukannya karena dorongan emosional. Siklus ini dalam jangka panjang dapat menyebabkan stres, kecemasan, hingga depresi.

Selanjutnya, Laporan Psikologi Longdom (2022) menunjukkan bahwa perilaku belanja berlebihan berkaitan dengan pola impulsif otak. Ketika seseorang membeli suatu barang, otak melepaskan dopamin yang menciptakan perasaan bahagia. Namun, jika kebiasaan ini terus-menerus dilakukan, otak akan membutuhkan stimulasi yang lebih kuat untuk meraih kepuasan yang sama.

Bagaimana Cara Mengelolanya?

Psikolog menyarankan beberapa langkah sederhana tetapi efektif dalam mengatasi perilaku belanja yang berlebihan. Berikut beberapa strategi yang dapat diterapkan:

  1. Sadari pemicu emosional.

    Kenali apakah hasrat berbelanja muncul dari kebutuhan yang nyata atau hanya sebagai cara mengatasi stres, kesepian, atau kebosanan. Kesadaran awal ini dapat membantu mengendalikan diri sebelum membuat keputusan yang merugikan.

  2. Buat anggaran belanja.

    Menetapkan batas pengeluaran bulanan membantu mengembangkan disiplin keuangan serta menghindari kebiasaan berbelanja secara impulsif. Dengan demikian, setiap pembelian menjadi lebih terkendali dan sesuai dengan kebutuhan.

  3. Tunda keputusan membeli.

    Terapkan aturan 24 jam sebelum membeli barang yang diinginkan. Masa jeda ini memberikan kesempatan bagi pikiran untuk mengevaluasi kembali apakah pembelian tersebut benar-benar diperlukan atau hanya keinginan sementara.

  4. Alihkan perhatian.

    Ubah kebiasaan berbelanja menjadi kegiatan positif seperti berolahraga, membaca, mengembangkan hobi, atau bertemu dengan orang yang dekat. Kegiatan ini bisa memenuhi kebutuhan emosional tanpa perlu menghabiskan uang.

  5. Cari dukungan.

    Jika kebiasaan berbelanja yang berlebihan mulai mengganggu kebiasaan sehari-hari dan kualitas hidup, konsultasi psikologis bisa menjadi pilihan. Dengan bantuan ahli, penyebab utama masalah dapat ditemukan dan cara mengatasi yang sesuai dapat diimplementasikan.

Ahli psikologi dari EBSCO Research Starter menekankan bahwa mengasah kesadaran diri membantu seseorang memahami alasan di balik tindakannya. Pertanyaan dasar seperti, “Apakah saya membeli ini karena benar-benar membutuhkan, atau hanya untuk mengisi kekosongan emosional?” bisa menjadi awal yang baik. Dengan pola pikir yang lebih sadar, seseorang mampu menjaga keseimbangan antara kepuasan emosional dan stabilitas keuangan, sehingga belanja tetap menyenangkan tanpa menimbulkan masalah di masa depan.

Perilaku konsumsi yang berlebihan merupakan fenomena psikologis yang wajar, namun bisa menjadi masalah serius jika tidak dikelola dengan baik. Dorongan emosional, tekanan sosial, maupun stres sehari-hari sering kali membuat seseorang terjebak dalam kebiasaan belanja berlebihan. Dengan meningkatkan kesadaran diri, pengelolaan keuangan yang tepat, serta dukungan dari lingkungan sekitar, kebiasaan konsumsi berlebihan dapat diubah menjadi lebih sehat. Pada akhirnya, berbelanja seharusnya digunakan sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan sekaligus merayakan diri, bukan sebagai cara menghindari masalah psikologis. Dengan keseimbangan ini, individu dapat mencapai kesejahteraan finansial dan kesehatan mental secara bersamaan.