Dalam alam binatang, kemampuan meremas dapat menjadi senjata kunci untuk kelangsungan hidup. Sebagian spesies mempunyai daya remas yang sangat dahsyat sehingga sanggup menumbuk cangkang tebal, menyergap prey dengan ganas, dan tetap menjepit permukaan bergelombang tanpa kendala.
Mulai dari pemangsa lautan sampai primata yang menggelayut di antara pohon-pohon, setiap spesies punya adaptasi khusus yang menjadikan gigitannya sangat kuat. Meski tekanan gigit rata-rata manusia hanya mencapai sekitar 100 PSI, ada beberapa hewan yang bisa melampaui angka tersebut berkali-kali lipat. Mereka memakai kekuatan itu untuk berburu, bertahan hidup, atau sekadar bertahan dalam lingkungan alamnya.
Setiap poin menggambarkan cara penggunaan kekuatan istimewanya masing-masing. Di bawah ini adalah daftar binatang dengan cengkeraman tertinggi yang disusun berdasarkan urutannya.
1. Gorilla
Gorilla menjadi pemimpin di alam primata berkat daya cengkeraman yang luar biasa sebesar kira-kira 1.300 PSI. Kehebatan fisik ini membolehkannya merobohkan batang bambu, melepas tumbuhan liar, serta melindungi dirinya dengan sukses.
Kekuatan genggaman tersebut bukan saja krusial bagi kelangsungan hidup, melainkan juga mengungkap kekuatan tubuh mereka yang luar biasa. Penelitian tertentu merekam cara gorila menggunakan tangan ketika merambat dan mencari makanan, membuktikan bahwa tangan mereka sangat cocok untuk menyergap ranting tebal dan labil sambil memindahkan peralatan dengan lincah.
Gorila sudah pernah terlihat meluruskan ranting tebal dan bahkan batang besi dalam kandang, menggambarkan kekuatan luar biasa pada tangannya. Cengkeraman mereka setara dengan kurang lebih enam kali lipat dari rata-rata manusia, sehingga membuatnya menjadi salah satu binatang darat paling kuat.
2. Kepiting kelapa
Kepiting kelapa dikenal sebagai pemegang cengkeraman tertinggi di kalangan makhluk non-kartilaga, mencapai daya tekan sebesar 740 PSI. Spesies kepiting darat besar ini mengandalkan kapit besarnya untuk membongkar kelapa, yaitu makanannya pokok.
Kekuatannya sangat mampu untuk patahkan tulang atau hancurkan benda-baja, menjadikannya kokoh dan tahan meski sedang berhadapan dengan musuh yang ganas.
Secara umum, tekanan yang dihasilkan dari capit mereka hampir sama dengan gaya gigit seekor singa. Kepiting kelapa menggunakannya tidak hanya untuk mendaki pohon dan menjaga teritorinya tetapi juga untuk berburu mangsa kecil, membuktikan bahwa cengkeraman tangguh tersebut sangat serba guna.
3. Orangutan
Orangutan menunjukkan daya cengkeram yang sangat kuat, mencapai hingga 600 PSI, membantu mereka untuk bergerak dengan lincah saat bergelantungan di pohon dan merapatkan diri pada ranting-rantingnya.
Raksasa kera ini telah berkembang secara ideal untuk gaya hidup di pohon, bergantung pada cakar mereka dalam menjelajahi rimba hutan tropis tebal tersebut. Kekuatan fisiknya mencapai tiga kali lebih kuat dibandingkan manusia biasanya, serta tangannya mampu mempertahankan beban tubuhnya dalam jangka waktu cukup lama.
Orangutan terkenal akan tingkat intelektualitasnya, di mana mereka mengoptimalkan keterampilan tangannya yang kokoh dalam pembuatan peralatan serta pemecahan berbagai macam tantangan. Misalnya saja, pegangan mereka sangat kuat sehingga mampu merusak cabang-cabang pohon kecil atau tetap menjaga ikan segar raksasa saat dibutuhkan.
4. Elang harpy
Elang Harpy dikenal memiliki salah satu cakar paling kuat di kalangan burung lainnya secara global, mencapai tekanan hingga 530 Pound Per Inci Kuadrat (PSI). Daya tarik yang luar biasa ini membuat elang dapat menghancurkan tulang mamalia medium seperti kuncring dan monyet hanya dengan satu kali cengkeramannya.
Cakarnya yang lebih besar daripada cakar seekor beruang grizzly, sanggup menghasilkan kekuatan ekstra untuk menembus tubuh mangsa.
Elang Harpy mempercayai pada kukunya untuk menewaskan binatang-binatang di kawasan hutan tropis di Amerika Tengah dan Selatan. Kekuatannya yang luar biasa mencerminkan posisi mereka sebagai pemburu teratas serta beberapa dari burung pemakan daging paling berani tersebut.
5. Kepiting raja
Kepiting raja, asli dari lautan es di Samudera Pasifik bagian utara, dikenal karena sepasang capitnya yang begitu besar dengan daya tarik sekitar 500 PSI. Kekuatan luar biasa tersebut dimanfaatkan untuk banyak hal seperti meratakan cangkang molusk tebal, melindungi dirinya dari predator, serta memotong-memotong makanannya.
Setiap kuku memiliki fungsi tersendiri. Kukuh “penindasan”, yang berukuran lebih besar diperuntukkan untuk kekuatan fisik, sementara kukuh “pemotong” yang lebih kecil justru handal pada pekerjaan detail.
Kekuatan gigitannya sangat dahsyat sehingga bisa melukai kulit manusia bahkan sampai cidera parah, membuatnya menjadi hewan yang perlu dihadapi dengan penuh kewaspadaan. Selain itu, kepiting raja juga memakai capinya untuk mendominasi lawan-lawannya serta mengambil sumber makanan di lingkungan bawah laut yang ramai persaingannya.
6. Simpanse
Gorila terkenal karena kekuatan tangan mereka yang menakjubkan, dengan daya tarik hingga 440 PSI. Tangan mereka dirancang khusus untuk mendaki serta mengoperasikan benda-benda, sehingga membuat mereka menjadi salah satu primata yang paling gesit dan berotot.
Kera utan menggunakan kekuatan cengkeraman mereka untuk bergantolle dari satu ranting ke ranting lainnya, membuka buah-buahan yang sulit dibuka, serta menerapkan alat dengan tepat.
Grip mereka sangat kuat hingga bisa memecah kenari atau mengungguli pesaingnya dalam perlombaan yang sengit, membuktikan adaptabilitas serta ketahanan mereka.
7. Elang botak
Elang botak merupakan predator berkekuatan tinggi dengan daya cengkeraman mencapai kira-kira 400 Pound Force per Sekuare Inch (PSI). Kekuatannya ini membolehkan elang tersebut menangkap ikan dari permukaan air tanpa kesulitan dan juga menjaga mangsanya yang masih bergerak saat terbang.
Kuku mereka dirancang khusus untuk meraih permukaan yang licin, dilengkapi dengan kukuh yang tajam dan berbentuk lengkung yang mampu menembusi bagian dalam.
Daya tarik dari cengkeramannya melebihi dua kali kekuatan rata-rata manusia dan cukup kuat untuk menghancurkan tulang hewan berukuran lebih kecil.
Untuk memberikan pemahaman, kekuatan gigitannya setara dengan tekanan ban mobil ketika menindih tangan manusia. Kekuatan luarbiasa dari elang botak menjadi faktor penting bagi kelanjutan hidupnya sebagai predator teratas di habitatnya.
8. Anaconda hijau
Ular anaconda hijau, yaitu spesies ular paling berat di seluruh dunia, memanfaatkan tenaga super besarnya untuk mengendalikan hewan seperti rusa, musang, dan landak. Gaya cengkramannya dengan tekanan sekitar 300 PSI per inci persegi ini digunakan secara efektif untuk membungkam mangsanya sehingga tidak bisa bernafas ataupun kabur.
Saat terjebak dalam sasaran, otot-otot mereka menyatu dengan kekuatan ekstraordinary, mengeluarkan tekanan kuat yang menjamin korban tak dapat selamat.
Menakjubkan sekali mereka bisa menahan hewan yang tengah bertarung di bawah air selama itu, sambil menggunakan habitat akuatik mereka dengan efisien. Dibandingkan hal tersebut, gigitan anaconda hijau sangatlah kuat sehingga mampu remukan tulang rusuk serta gangguin aliran darah mangsanya, bikin si ular ini jadi salah satu pemangsa tersakitir di Benua Amerika Selatan.
9. Kera jepang
Monyet Jepang, sering disebut juga sebagai kera salju, ternama karena kemampuan tangannya yang sangat kuat; mereka menggunakan ini untuk mendaki pepohonan, meremas batu-batu, serta mengeksplorasi dan mengumpulkan makanan dalam lingkungan pegunungannya.
Daya tahan genggam mereka, diketahui mencapai sekitar 230 PSI, jauh melebihi kebanyakan orang. Ini memberi mereka kemampuan untuk bertumpu di cabang-cabang pohon, termasuk saat suhu membeku atau ketika cuaca sangat ekstrem.
Kera memakai tangan besarnya untuk kegiatan bersosialisasi, mengoperasikan peralatan, serta menjelajahi area yang sulit dilintasi. Misalnya saja, genggamannya sangat kokoh sehingga dapat merapat pada ranting pohon sementara tubuhnya sepenuhnya tergantung padanya, membantu mereka bertahan dalam kondisi cuaca ekstrem.
Makhluk-makhluk tersebut mengandalkan kemampuan alami mereka untuk mendaki, mencari makanan, melindungi diri, serta bertahan hidup dalam habitatnya, kadang-kadang dengan hasil yang lebih baik daripada manusia.